Categories
Blog

Drone atau Pesawat Tanpa Awak

Drone atau Pesawat Tanpa Awak atau Pesawat Nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin terbang. Yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri; dan mampu membawa muatan barang. Rudal walaupun mempunyai kesamaan tetapi tetap dianggap berbeda karena rudal tidak bisa digunakan kembali dan rudal adalah senjata itu sendiri.

Dalam sebuah perancangan drone, harus didefinisikan misi penerbangan seperti apa yang akan dilakukan oleh pesawat tersebut. Karena tidak ada drone yang bisa melakukan semua misi yang ada dalam penerbangan. Apakah bertujuan pemantauan dari langit untuk melihat objek yang diam atau bergerak, di wilayah seperti hutan, pegunungan, rawa dan lain-lain. Dengan misi tersebut, maka drone harus berkecepatan rendah, sangat stabil, dapat melayang dan mudah dikendalikan. Drone harus memiliki tinggi terbang 200 m, kecepatan terbang 60 km/jam, lama terbang 60 menit, berat kurang dari 6 kg, dan mesin yang tidak terlalu besar.

Sejarah Drone

Penggunaan drone sebenarnya telah lama diterapkan mulai pada perang dunia pertama pada bulan Juli 1849. Berfungsi sebagai pembawa balon untuk kekuatan udara dalam penerbangan angkatan laut . Austria menjadi negara pertama yang diketahui menggunakan drone saat menyerang Italia pada 22 Agustus 1849.

Pasukan Austria yang mengepung Venesia berusaha meluncurkan sekitar 200 balon pembakar ke kota yang terkepung. Balon diluncurkan terutama dari darat. Namun, beberapa juga diluncurkan dari kapal Austria SMS Vulcano. Setidaknya satu bom jatuh di kota. Karena angin berubah setelah peluncuran, sebagian besar balon meleset dari sasaran, dan beberapa melayang kembali ke garis Austria dan kapal peluncur Vulcano.

Drone bertenaga dimulai dari AM Low pada tahun 1916. Low menegaskan bahwa monoplane Geoffrey de Havilland adalah salah satu yang terbang di bawah kendali pada 21 Maret 1917 menggunakan sistem radio. Kemajuan selanjutnya adalah Pesawat Otomatis Hewitt-Sperry Inggris (1917) dan RAE Larynx (1927). Kendaraan pilot jarak jauh skala pertama dikembangkan oleh bintang film dan penggemar model pesawat Reginald Denny pada tahun 1935.

Nazi Jerman memproduksi dan menggunakan berbagai pesawat UAV selama perang, seperti Argus As 292 dan bom terbang V-1 dengan mesin Jet . Setelah Perang Dunia II, pengembangan dilanjutkan pada kendaraan seperti JB-4 Amerika (menggunakan komando televisi / radio), GAF Jindivik Australia dan Teledyne Ryan Firebee I tahun 1951. Perusahaan Beechcraft menawarkan Model 1001 yang dikendalikan dari jarak jauh untuk Angkatan Laut AS pada tahun 1955. 

Pada tahun 1959, Angkatan Udara AS , yang kuatir kehilangan pilot di wilayah musuh, mulai merencanakan penggunaan pesawat tanpa awak.

Terlebih setelah Uni Soviet menembak jatuh U-2 pada tahun 1960. Bentrokan pada Agustus 1964 di Teluk Tonkin antara unit angkatan laut AS dan Angkatan Laut Vietnam Utara. Memprakarsai UAV Amerika yang sangat rahasia ( Ryan Model 147 , Ryan AQM-91 Firefly , Lockheed D-21 ) ke dalam misi tempur pertama mereka di Perang Vietnam.

Selama Perang Attrisi (1967-1970) UAV taktis pertama yang dipasang dengan kamera pengintai pertama kali diuji oleh intelijen Israel, berhasil membawa foto dari seberang kanal Suez. Ini adalah pertama kalinya UAV taktis yang dapat diluncurkan dan mendarat di landasan pacu pendek . Tidak seperti UAV berbasis jet yang lebih berat. Dalam Perang Yom Kippur 1973 , Israel menggunakan UAV sebagai umpan untuk memacu pasukan lawan untuk membuang-buang rudal anti-pesawat yang mahal. Gambar dan umpan radar yang disediakan oleh UAV ini membantu Israel untuk sepenuhnya menetralkan pertahanan udara Suriah pada awal Perang Lebanon 1982 , sehingga tidak ada pilot yang jatuh.

Pada tahun 1973, militer AS secara resmi mengkonfirmasi bahwa mereka telah menggunakan UAV di Asia Tenggara (Vietnam). Dengan menerbangkan sekitar 3.435 misi UAV selama perang. UAV dalam simulasi penerbangan tempur yang melibatkan kontrol vektor dorong 3D berbasis teknologi siluman, jet-steering UAV di Israel pada tahun 1987. AAI Pioneer UAV yang dikembangkan AAI Corporation bersama perusahaan Israel Malat, digunakan dalam Perang Teluk 1991.

CAPECON adalah proyek Uni Eropa untuk mengembangkan UAV, berjalan dari 1 Mei 2002 hingga 31 Desember 2005. Pada tahun 2010, Parrot memperkenalkan AR Drone yang bisa dikendalikan melalui perangkat smartphone. Drone ini mengusung model quadcopter yakni berbaling-baling empat. Pada 2012, USAF mempekerjakan 7.494 UAV – hampir satu dari tiga pesawat USAF. The Central Intelligence Agency UAV juga dioperasikan. Pada 2013 setidaknya 50 negara menggunakan UAV. China, Iran, Israel, Pakistan, dan lainnya merancang dan membangun varietas mereka sendiri.

Spesifikasi umum :
  1. Panjang pesawat: 1.800 mm
  2. Tinggi pesawat: 250 mm
  3. Rentang sayap: 2.100 mm
  4. Daya mesin: 1,5 PK
  5. Berat lepas landas: < 6 kg
  6. Berat muatan: 500 gram
  7. Daya jelajah: 1 jam
  8. Kecepatan terendah: 20 km/jam
  9. Kecepatan normal: 60 km/jam
  10. Ketinggian operasi: 200 m
  11. Ketinggian maksimum: 1.000 m
  12. Jangkauan radio modem: 10 km
  13. Jarak pengunduhan video:10 km
  14. Frekuensi pengunduhan video: 2,4 GHz
  15. Frekuensi kontrol radio TX: 72 MHz
  16. Sistem daya: 12 VDC
  17. Bidang kendali: standar (2 bidang aileron, 1 bidang elevator dan 1 bidang rudder)
Sistem kendali
Tahap manual

Pada tahap take off dan landing, peran operator mutlak diperlukan untuk mengendalikan drone mencapai ketinggian. Kecepatan operasi yang diinginkan serta mengantisipasi hal yang di luar dugaan. Operator menggunakan Remote Control Transmitter (R/C Tx) untuk mengendalikan drone. Efektif mengendalikan sampai pada jarak 1 km dengan kondisi baterai yang baik.

Perubahan terbaru adalah panjang pesawat dari sebelumnya 1050 mm menjadi 1800 mm dan bidang kendali aileron kiri dihilangkan. Perubahan-perubahan ini dilakukan. Tujuannya untuk menambah kecepatan jelajah, kestabilan statis yang lebih baik serta meminimalisir bagian mekanik yang kritis di pesawat agar aman saat terjadi benturan ketika mendarat.

Tahap autopilot

Ketika drone sudah berada pada ketinggian operasi dan kecepatan terbang yang diinginkan maka pilot mengaktifkan sistem kendali autopilot. Sistem ini meliputi Wing leveler untuk menjaga pesawat tetap terbang datar. Airspeed hold untuk menjaga kecepatan pesawat sesuai program. Pesawat dapat terbang dengan lintasan lurus dan mendatar.

Sistem Navigasi

Drone memiliki sistem navigasi yang berbasis Global Positioning System (GPS) berbasis satelit . Navigasi berbasis GPS secara efektif memandu drone melakukan penerbangan melewati titik-titik koordinat yang telah diprogram, dibantu dengan sistem autopilot. Penempatan kamera video sebagai mata dari pesawat ini menjadi penting. Penempatan kamera harus memiliki sudut pandang yang terbuka, menjadi alat bantu pengendalian bagi pilot dan ditempatkan pada dudukan yang kokoh.

Pemanfaatan Drone

Drone  atau Pesawat Tanpa Awak telah dimanfaatkan secara meluas oleh pemerintah maupun masyarakat umum, baik untuk keperluan khusus maupun untuk hiburan. Berbagai produk drone diperkenalkan melalui berbagai promosi dan event. Perusahaan tambang memakai kamera yang terpasang pada drone untuk menciptakan peta tambang tiga dimensi yang penting dalam kalkulasi volume material yang telah digarap.

“Lebih cepat, lebih mudah, dan lebih efisien” daripada juru survei manusia atau pesawat berawak, menurut Thomas Lerch. Pengguna drone untuk kepentingan pengukuran tambang kerikil dan tempat pembuangan sampah akhir di Swiss. Contoh lainnya adalah PowerVision PowerRay, sebuah drone bawah laut yang menggunakan umpan sonar dan LED untuk merekam dan berburu ikan.

Event Drone

Event penggunaan drone untuk hiburan antara lain The Drone Rodeo, yang bertepatan dengan CES 2017, namun berlangsung di tengah gurun Las Vegas. Disini pilot drone mendapatkan pandangan orang pertama melalui kacamata virtual reality (VR). Drone balap memiliki kamera untuk mengirim sinyal video kembali ke operator. Pembalap yang dipamerkan di Rodeo termasuk UVify Draco quad-copters, sebuah model baru yang diluncurkan di CES 2017. Mereka berukuran kecil dan gesit, dan bisa terbang dengan kecepatan antara 75 dan 100mph. Juga ada demo dari PowerUp FPV, pesawat terbang kertas dengan motor yang dikontrol via smartphone.

 

Toko Resmi Terabit Komputer